Blog

How to Make Essential Oils
...

Essential oil, minyak atsiri, atau minyak esensial saat ini semakin banyak digemari karena banyak mengandung manfaat untuk kesehatan. Wanginya juga bisa menenangkan pikiran. Tahukah Anda bagaimana cara membuat minyak esensial?



Membuat minyak esensial tidaklah mudah, karena dibutuhkan alat-alat khusus. Ada cara yang membutuhkan alat sederhana, tapi prosesnya perlu waktu yang lebih lama.


Ada banyak jenis tanaman yang biasa digunakan sebagai essential oil, misalnya lavender, peppermint, citronella, bunga mawar, dan sebagainya. Oil yang diekstrak dari masing-masing tanaman memiliki manfaat yang berbeda-beda.


Oil bisa di-diffuse dengan diffuser, dicampur dengan carrier oil, atau digunakan untuk parfum, scrub, lotion, dan produk lainnya. Oil tidak hanya memberikan aroma yang menyegarkan, tapi juga relaksasi dan sensasi sejuk.


Saat ini sudah banyak merk essential oil lokal maupun internasional yang proses pembuatannya tak jauh berbeda. Meskipun demikian, ada baiknya Anda mengetahui dengan cara apa essential oil yang Anda gunakan diproduksi.


Memahami Konsep Pembuatan Minyak Esensial

Apa itu essential oil? Essential oil adalah minyak yang dihasilkan dari proses ekstraksi dari tanaman. Ekstraksi bisa dilakukan dengan memisahkan kandungan minyak dari padatan dan air yang ada dalam tanaman.



Ada banyak jenis proses yang bisa dilakukan untuk memproduksi minyak esensial. Namun harus dipahami bahwa metode yang digunakan, pemanasan dan suhu yang diterapkan akan sangat mempengaruhi kualitas essential oil yang digunakan.


Oleh karena itu, harga essential oil yang beredar di pasaran juga bermacam-macam, tergantung kualitas bahan dan metode ekstraksi yang dipilih.


8 Cara Membuat Minyak Esensial


Setidaknya ada delapan cara membuat minyak esensial yang banyak digunakan oleh para produsen essential oil. Diantaranya adalah sebagai berikut:


1. Distilasi Uap (Steam Distillation)

Dalam proses distilasi uap, Anda perlu mengisolasi atau mengekstraksi minyak dari tanaman yang dijadikan bahan. Uap akan membantu menguapkan volatil yang nantinya akan terkumpul dan terkondensasi menjadi minyak esensial.


Proses distilasi ini menggunakan still – sebuah wadah besar yang biasanya terbuat dari bahan stainless steel. Masing-masing pabrik pembuatan minyak esensial mungkin memiliki sedikit perbedaan dalam praktek distilasi uap ini. Namun secara umum, berikut adalah langkah-langkahnya:


  • Tanaman dimasukkan ke dalam still. Perhitungan yang tepat sangat menentukan seberapa banyak oil yang akan dihasilkan.
  • Melalui sebuah saluran yang ada pada still, uap akan disuntikkan, sehingga mengenai tanaman yang minyaknya ingin diambil. Tanaman-tanaman tersebut akan mengeluarkan molekul yang beraroma wangi, dan still akan mengubahnya menjadi senyawa uap.
  • Senyawa uap tersebut kemudian masuk ke kondensor. Dalam kondensor, air panas akan keluar dan air dingin dimasukkan, sehingga uap kembali menjadi cairan.
  • Cairan aromatik yang dihasilkan dari kondensor akan dikumpulkan di suatu bejana yang dinamakan separator. Karena massa jenis air dan minyak berbeda, maka kedua zat tersebut akan otomatis terpisah.

  • Perlu diingat, bahwa tidak semua jenis minyak esensial yang dihasilkan akan mengapung di atas air. Beberapa jenis minyak memiliki massa jenis yang lebih besar dari air, sehingga justru akan berada di bawah air saat dalam separator. Contohnya pada essential oil cengkeh (Syzygium aromaticum).


    Metode distilasi uap hingga kini masih tetap menjadi cara membuat essential oil yang paling terkenal.


    2. Distilasi Air (Water Distillation)

    Faktanya, distilasi uap tidak bisa diaplikasikan untuk semua jenis ekstraksi minyak esensial. Beberapa jenis bahan yang mudah robek, seperti misalnya bunga mawar akan menggumpal apabila terkena uap dari proses steam distillation. Oleh karena itu, digunakan metode ekstraksi lain yang bernama distilasi uap.


    Pada proses ini, Anda bisa merendam bahan utama di dalam air murni yang telah dididihkan. Air dalam proses ini akan membantu mencegah kerusakan minyak karena pemanasan yang berlebih. Dari distilasi air ini, cairan minyak kental akan turun suhunya dan terpisah dari air.


    Air yang tersisa biasanya tidak langsung dibuang. Kadang-kadang air yang tersisa juga beraroma wangi, sehingga kemudian disebut dengan air bunga, air herbal, atau hidrosol. Jika Anda pernah mendengar istilah air mawar, maka itu sebenarnya adalah air yang dihasilkan dari proses distilasi ini.


    3. Distilasi Air dan Uap (Water and Steam Distillation)

    Metode ini sangat tepat bila digunakan bahan essential oil berupa tanaman dan dedaunan. Caranya adalah dengan merendam bahan yang akan dijadikan essential oil ke dalam still untuk distilasi. Saat still dipanaskan, uap perlahan-lahan dimasukkan dari luar ke dalam still.


    4. Ekstraksi Dengan Pelarut (Solvent Extraction)

    Metode ini melibatkan zat pelarut yang termasuk dalam golongan food grade, misalnya ethanol atau hexane. Cara ini paling pas digunakan untuk memproduksi essential oil dari bahan tanaman yang kandungan minyaknya sangat sedikit atau yang banyak mengandung resin.


    Ekstraksi dengan pelarut juga dapat menangani tanaman-tanaman yang minyaknya tidak mampu menahan suhu tinggi. Ini penting untuk mencegah kerusakan minyak tersebut. Salah satu kelebihan metode ini adalah hasil minyak yang wanginya jauh lebih baik daripada bila menggunakan metode lainnya.


    Salah satu ciri utama proses pembuatan essential oil dengan metode ini adalah keterlibatan bahan yang tidak dapat menguap. Misalnya beberapa jenis lilin dan pigmen tertentu, yang ikut diekstrak. Setelah proses ekstraksi, maka bahan-bahan tambahan tersebut dipisahkan dengan metode lain.


    Tanaman yang diproses dengan pelarut akan menghasilkan suatu senyawa aromatik. Saat senyawa tersebut dicampur dengan alkohol, maka essential oil akan terlepas dan dapat digunakan untuk berbagai tujuan.


    5. Ekstraksi Karbondioksida (CO2 Extraction)

    Cara lain untuk membuat minyak esensial adalah menggunakan ekstraksi karbondioksida. Karbondioksida yang digunakan haruslah dalam keadaan superkritis, yaitu dalam tekanan dan suhu yang berada di atas titik kritis termodinamika.


    Cara ini menghasilkan essential oil yang lebih tinggi kualitasnya bila dibandingkan dengan menggunakan distilasi uap. Hal ini terjadi karena proses ini dilakukan pada suhu 35 hingga 37,8 derajat Celcius. Sementara pada proses distilasi uap, bahan akan dipanaskan pada suhu 60 hingga 100 derajat Celcius.


    Pemanasan yang dilakukan pada distilasi uap akan menyebabkan adanya perubahan komposisi dari bahan tanaman dan minyak yang dihasilkan. Sementara itu, menggunakan CO2 sebagai pelarut dalam proses ekstraksi karbon dioksida akan menghasilkan minyak dengan komposisi yang tidak jauh dari bahan alami asalnya.


    Cara melakukan proses ini adalah sebagai berikut:


  • Karbondioksida yang berada dalam kondisi superkritis dimasukkan ke dalam container yang berisi bahan tanaman essential oil.
  • Karena bentuknya cair, CO2 menjadi pelarut dari bahan-bahan alami yang ada dalam container. Karbondioksida menarik zat minyak, pigmen dan resin dari tanaman, lalu berbagai zat tersebut bercampur menjadi satu.
  • Karbondioksida dikembalikan ke bentuk gas, sehingga meninggalkan minyak esensial yang bisa digunakan.

  • 6. Maserasi (Maceration)

    Metode maserasi sering disebut dengan infusi, dan akan menghasilkan infused oil. Dalam proses ini, carrier oil akan digunakan sebagai pelarut untuk mengekstraksi essential oil dari tanaman alami.


    Kelebihan metode ini adalah kemungkinan mendapatkan senyawa minyak yang lebih dekat dengan sifat aslinya saat masih berada pada tanaman. Ini karena carrier oil punya kemampuan menarik molekul yang lebih banyak daripada yang bisa ditarik melalui distilasi uap.


    Tanaman yang akan digunakan dalam metode maserasi haruslah dalam kondisi sekering mungkin. Jika sedikit saja tanaman mengandung air, maka minyak yang dihasilkan akan menjadi tempat berkembangnya mikroba, dan aromanya akan berubah menjadi tidak enak.


    Metode maserasi bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:


  • Potong-potong, cincang atau hancurkan tanaman yang akan dimaserasi hingga menjadi bubuk kasar.
  • Pindahkan bubuk kasar bahan ke dalam wadah tertutup. Biarkan selama seminggu, dengan sesekali dikocok atau diguncang.
  • Setelah seminggu, cairan disaring. Sisa padatan ditekan untuk mengeluarkan isi cairan yang tersisa.
  • Cairan yang tersaring kemudian diproses dengan cara filtrasi.

  • Untuk mencegah berkembangnya mikroba pada minyak hasil maserasi, Anda juga bisa menambahkan Vitamin E 5%.


    7. Enfleurage

    Cara yang tergolong tradisional ini sudah jarang digunakan saat ini. Meskipun demikian, beberapa perusahaan masih menggunakannya karena berbagai pertimbangan. Metode ini menggunakan lemak, baik lemak tumbuhan maupun hewan.


    Ada dua jenis enfleurage, yaitu hot enfleurage dan cold enfleurage. Untuk melakukan proses cold enfleurage, Anda bisa mengikuti langkah berikut.


  • Siapkan lemak tumbuhan atau hewan yang telah dimurnikan sehingga bersih dan tidak berbau. Letakkan di piring kaca dengan chassis.
  • Letakkan kelopak bunga yang segar atau bunga utuh yang telah dibersihkan di atasnya, lalu tekan hingga masuk ke dalam lemak. Biarkan selama satu hingga tiga hari, lalu Anda akan menyadari bahwa secara bertahap aroma dari bunga tersebut meresap ke dalam lemak.
  • Tarik bunga dan gantikan dengan bunga yang baru hingga lemak memiliki aroma sesuai yang Anda inginkan.
  • Dari proses ini akan dihasilkan enfleurage pomade. Pomade kemudian diproses dengan alcohol untuk memisahkan antara ekstrak tumbuhan dan sisa lemak. Sisa lemak bisa digunakan untuk membuat sabun, sementara bila ekstrak tumbuhan diuapkan alkoholnya, akan menghasilkan essential oil absolute.

  • Pada hot enfleurage, ada proses pemanasan lemak sebelum diletakkan di piring kaca dengan chassis.


    8. Ekstraksi Dengan Metode Cold Press

    Sesuai namanya, proses ini tidak menggunakan pemanasan. Metode ini paling cocok untuk mengekstrak minyak dari kulit jeruk. Caranya adalah sebagai berikut:


  • Buah jeruk diletakkan di mesin cold press yang menorah kantung-kantung minyak esensial yang berada di bawah lapisan kulit terluar.
  • Seluruh jeruk akan ditekan untuk mengeluarkan jus dan minyak. Minyak dan jus jeruk yang dihasilkan akan diproses untuk menyaring padatan dari cairan.
  • Minyak akan secara otomatis terpisah dari jus jeruk karena perbedaan massa jenisnya, dan tersedot ke receptacle.

  • Itulah berbagai jenis metode atau cara melakukan ekstraksi pada tanaman untuk menghasilkan essential oil. Masing-masing cara memiliki sisi positif dan negatif yang berbeda.


    Karena diekstrak dengan cara yang tidak semuanya aman untuk pencernaan, maka selama ini essential oil diutamakan untuk penggunaan luar. Mengkonsumsinya secara langsung tidak disarankan, apalagi bila Anda tidak mengetahui secara detail bagaimana proses pembuatan essential oil tersebut.


    Sekarang, Anda sudah tahu berbagai cara membuat minyak esensial. Mulai saat ini, jika membeli essential oil, coba cari tahu, dari proses mana produk tersebut dihasilkan?